Minggu, 23 Januari 2011

PERISTIWA RENGASDENGKLOK 16 AGUSTUS 1945

Pada tanggal 14 Agustus 1945, para pemuda mengdakan rapat di Jakartayang hadir dalam rapat itu antara lain Chairul saleh, sutan shrir, sukarni, singgih, suhud dan lain sebagainya.

Sutan Syahrir : (Membuka pembicaraan ) “assalamu’alaikum”

Semuanya yg hadir : "Waalaikum salam”

Sutan sahrir : (Membuka rapat itu dengan menyampaikan berita yang ia ketahui
tentang Jepang )

Saudara-saudara ku saya mendengar berita yang mengembirakan bagi kita semua yaitu menyerahnya Jepang terhadap sekutu saya mendengar berita tersebut dari radio Lua Negeri itu berarti terjadi klekosongan kekuasaan di Indonesia ( sutan syahrir menjelaskan dengan penuh semangat )

Sukarni : “itu merupakan kabar yang sangat menggembirakan bagi kita semua, tapi
yang saya bingungkan maksud tua tadi berbicara terjadi kekosongan
kekuasaan itu apa ?” (Sukarni dengan penuh keheranan saat menanyaka hal tersebut pada sutan syahrir)

Sutan Syahrir : “maksud saya, Jepang tidak lagi berkuasa terhadap negeri kita karena
menyerah kepada sekutu, sedang sekutu belum sepenuhnya menguasai Indonesia.”
Sukarni : “oh, Ya mengerti maksud tuan, terima kasih atas penjelasannya tuan”
(sutan syahriri menjelaskan sukarni hanya mengangguk –ngangguk dan
tersenyum)

Sutan Sahrir : (membalas dengan senyuman )

Chairul Saleh : “lalu sekarang apa yang harus kita lakukan untuk mengisi kekosongan
kekuasaan ini ?”

(dengan anda bicara penuh kecemasan)

Sutan syahriri : “Bagaimana kalau kita mengajukan kepada soekarno dan Moh. Hatrta agar
segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya.”

Chairul Saleh : “Saya setuju usul anda tuan, karena waktu itu inilah yang tepat bagi kita
semua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”

Mendengar yang dibicarakan Chairul saleh para pemuda ricuh, mereka begitu gembiranya mendengar Indonesia akan memproklamasikan kemerdekaannya Sepertinya mereka tidak sabar untuk membicarakan keinginan rakyat ini bersama Soekarno dan Moch Hatta, Chairul Saleh yang melihat sikap para pemuda tersebut kemudian mencoba untuk menenangkan mereka.




Chaerul Saleh : “Tenang, tenang semua tenang, saya mohon duduk kalian di kursi masing-
masing” (dengan suara lantang ia menengakan para pemuda)

Para pemuda duduk dan dan susasana tenang kembali

Chairul Saleh : kalau kalian sudah setuju, besok kita akan mendatangi rumah Soekarno dan
kita bicarakan maksud keinginan kita semua , bagaimana kalau rapat ini
kita cukupkan sekian lebih baik kita pulang kerumah masing-masing.

Rapatpun akhirnya selesai, para pemuda kembali pulang dan kembali kerumah masing-masing
Keesokan harinya pada tanggal 15 Agustus 1945 para pemuda mendatangi rumah soekarno dengan maksud memberitahukan Soekarno tentan keinginan para pemuda itu.

Sutan Syahrir : (tok-tok.....,) “asalamu’alaikum “, ?

Fatmawati : (fatmawati membukan pintu) “ waalaikumSalam” !

Sutan syahrir : “maaf bu, apakah Bungkarnonya ada , kami ingin bertemu
dengannya”

Fatmawati : “yah kang mas ada didalam, memang ada apa yah mencari
kang mas”

Chairul Saleh : “Begini Bu ada hal yang penting yang harus kami icarakan
dengan nya.”

Fatmawati : “oh kalau begitu ya sudah ayo slahkan masuk, silahkan duduk”

Chairul saleh : “terima kasih Bu !”

Fatmawati : “Sama-sama (sambil tersenyum ) kalau begitu saya panggilkan dulu
kangmas”

Fatmawati akhirnya pergi meninggalkan para pemuda di ruang tamu dan kemudian ia menemui Soekarno

Soekarno : (saat fatmawati menghampiri Soekarno di ruang baca,
Soekarno betanya)“Siapa Bu yang datang”

Fatmawati : “itu para pemuda datang mereka ingin berbicara penting
Katanya”

Soekarno : (Soekarno kemudian beranjak dari kursi dan pergi untuk
menghampiri para pemuda)

Akhirnya Soekarno datang bersama fatmawati kemudian para pemuda berjabat tangan dengan Soekarno. Dan menceritakan maksud kedatangan mereka. Fatmawatipun pergi meninggalkan Soekarno dan para pemuda.



Fatmawati : “Ya sudah kang mas saya kembali ke belakang dulu. Masihbanyak pekerjaan
yang belum saya kerjakan. Oh ya tuan-tuan ini mau minum apa, biar saya
ambilkan dulu !”

Soekarno : “Saya dengar dari istri saya katanya ada yang ingin kalian
bicarakan memang apa”

Chairul saleh : “Kami ingin membicarakan tentang keinginan kami untuk secepatnya Indonesia
memperoklamsikan kemerdekaannya”

Soekarno : “Maksud kalian apa saya tidak mengerti?”

Chairul saleh : “maksud kami adalah menginginkan agar secepatnya Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya”

Soekarno : “Lalu kenapa kalian ingin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”

Sutan syahrir : “Karena inilah kesempatan yang baik bagi kita semua untuk segera
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, karena Jepang sudah menyerah
pada sekutu”

Soekarno : “Apa kalian tidak memikirkan bahaya apa saja apabila bila kita tetap nekad
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Apa lagi kekuatan militer Jepang
yang masih berada di Indonesia mampu menggagalkan rencana untuk
memperoklamasikan Indonesia”

Sutan sahir : “Yang jelas kami menginginkan kemerdekaan Indonesia secepatnya!

Soekarno : “Apa ini tidak terlalu tergesa-gesa ! sedangkan kebenaran berita menyerahkan
Jepang kepada sekutu masih di ragukan, lebih baik kita cek dahulu dari sumber
yang resmi”

Sutan sahir : “Jadi usulan kami belum dapat di setujui tapi saya yakin berita tersebut benar
adanya”

Soekarno : “Nanti saja kita bicarakan lagi lebih lanjut dengan anggota PPKI lainnya karena
saya sendiri tidak bisa mengambil keputusan sendiri”

Sutan sahir : “Ya sudah kalau memang keputusan Bung Karno seperti itu apa boleh buat”

Chairul saleh : “Mungkin pembicaraan ini kita cukupkan sekian saja karena sudah terlalu
malam. Sebelumnya kami meminta maaf mungkin kedatangan kami menganggu
waktu istirahat Bung”

Soekarno : “Tidak apa-apa, silahkan!”



(Merekapun berjabat tangan dan berpamitan pulang)
malam harinya para pemuda mengadakan rapat lagi tepatnya jam 20.00 WIB untuk membahas mengenai sikap Soekarno yang kurang mendukung keinginan para pemuda.
Chairul saleh : “Bagaimana kalau apa yang kita bicarakan ini kita rundingkan kembali dengan
Soekarno dan Moch Hatta”

Semua yang hadir : “Setuju”

Akhirnya mereka berangkat ke rumah Soekarno, tak lama kemudian mereka sampai di rumah Soekarno

Chairul saleh : “Asalamu’alaikum !”

Fatmawati : “Oh mancari Kang Mas ada didalam, ayo masuk wah kebetulan sekali yah,
tokoh-tokoh tua juga sedang berkumpul disini”

Sukarni : Apa Bu,tokoh tua juga ada disini ?” (Sukarni bertanya dengan penuh rasa
kaget)

fatmawari : “Ya ada, seperti Moch Hatta, Dr Samsi, Buntaran, dan yang lainnya, maaf saya
keasyikan ngobrol, mari masuk, silahkan duduk, saya penggilkan dulu Kang Mas”

sukarni : “Silahkan Bu !”

Tidak lama kemudian Soekarno datang bersama tokoh-tokoh tua

Chairul saleh : “Maaf Bung, lagi-lagi kami menganggu waktu anda”

Soekarno : “Ah tak apa-apa, lalu apa yang ingin kalian bicarakan”

Chairul saleh : “Begini, Bung sendiri sudah tehukah bahwa kami menginginkan Indonesia
segera memproklamasikan kemerdekaannya”

Soekarno : “Yah saya tahu, kalian begitu menginginkan Indonesia segera
memperoklamasikan kemerdekaan, sama saya juga menginginkan”

Latif Hendraningrat : “Lalu kenapa Bung tidak menyetujui, kalau Bung menginginkan
kemerdekaan Indonesia”

Soekarno : “Saya tidak bisa seenaknya menyetujui usul anda, tanpa mengadakan rapat
dahulu dengan anggota PPKI”

Sutan sahir : “Saya berharap Bung tidak akan mengadakan rapat dengan anggota PPKI,
karena yang saya takutkan nanti Jepang malah mengetahui rencana ini Bung,
kita tahukan PPKI memang di bentuk oleh Jepang”

Soekarno : “Yah saya tahu itu bahwa memang PPKI itu dibentuk oleh Jepang, tapi itu
merupakan satu-satunya jembatan bagi kita unruk memperoklamasikan
kemerdekaan Indonesia”

Chairul saleh : “Tetapi kami tidak ingin Jepang ikut campur tangan dalam rencana ini Bung!”

Ahmad Soebarjo : “Jadi maksudnya kita memutuskan segala ikatan dengan Jepang, begitu kan”

Sutan sahir : “yah...! begitu”

Soekarno : “Tetapi saya tidak menyetujuinya, lebih baik kita bicarakan masalah ini
dengan anggota PPKI< agar nantinya saat memperoklamasikan
kemerdekaan Indonesia kita tidak mengalami banyak masalah”

Sutan sahir : “Tapi”

Soekarno : (Memotong pembicaraan sutan sahir) “Tidak ada tapi-tapian yang tidak
akan mengikuti keinginan kalian” (dengan nada bicara yang tinggi. Sambil
emosi yang meluap luap)

Semakin alot perundingan, para pemuda dan Soekarno berisitegang keadaan semakin panas. Tiba-tiba Moch Hataan datang

Hatta : “Asalamu’alaikum”!

Soekarno : “Waalaikum salam!”

Hatta : “ada apa ini para pemuda dan tokoh Bung datang berkumpul di sini”

Soekarno : “Ah tidak apa-apa saya senang sekjali Bung datang kemari. Kami sedang
membicarakan keinginan para pemuda ini”

Hatta : “Memang apa keinginan para pemuda itu, yang saya dengar kalau tidak salah
mereka ingin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia”

Soekarno : “Yah benar sekali itu yang mereka inginkan, tepi yang saya tidak setujui karena
saya tidak bisa mengambil keputusan ini sendiri”

Hatta : “Bagaimana kalau kita rundingkan dulu masalah ini tanpa para pemuda, kita
renungkan bersama para tokoh tua”

Soekarno : “Baiklah saya setuju!”

Hatta : “Tapi bagaimana dengan para pemuda ini”

Soekarno : “Biarkan para pemuda itu duduk di serambi belakang”

(Pemuda keluar dari rumah Soekarno dan menunggu tokoh tua yang berunding. Mereka menunggu di serambi belakang)

(Bung Karno dan Bung Hatta serta para tokoh nasionalis tua berunding

Hatta : “Lalu apa yang sekarang kita lakukan sedangkan para pemuda terus mendesak
agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.”


Soekarno : “tapi kita tidak tahu kebenaran berita tersebut, lagi pula kalau memang Berita
tersebut benar tentu saja seharusnya kitalah dahulu yang mengetahuinya.”

Hatta : Jadi maksud bung kita tidak akan mengikuti keinginan para pemuda

Soekarno : “benar, karena yang saya takutkan natinya malah terjadi prtumpahan darah,
mengingat kekuatan militer masih siap siaga dan kuat disini.

Buntaran : “Ya sudah bagaimana kalau keputusan anda dan bung Hatta ntuk tidak
menyetujui keinginan para pemuda ini kita sampaikan kepada para pemuda”

Hatta : ‘Ya sudah ayo kita hampiri mereka!”



(kemudian para tokoh nasionalis tua itu beranjak keluar dan menemui para pemuda yang sejak tadi menunggu di serambi belakang.)

Suhud : “bagaiman keputusan anda Bung.?”

Soekarno :”Saya tetap pada pendirian saya, bahwa kami (sambil menunjuk Bung Hatta)
tetap tidak ingin memproklamasikan kemerdekaan Indonesia sekarang ini, jika
memang kalian tetap pada pendirian kalian maka saya persilahkan anda untuk
mencari tokoh yang lain.”

Sutan Syahrir : “baiklah kalau pendirian adan seperti itu kami tidak bisa melakukan apa-apa ,
tapi yang jelas kami akan berusaha memproklamasikan kemedekaan Indonesia
secepatnya.”

Akhirnya para pemudapu poergi dari rumah Soekarno dengan kekecewaan yang mendalam.
Pukul 24.00menjelang tanggal 16 Agustus 1945 para pemuda mengadakan rapat di Cikini.

Chaerul Saleh : “sekarang apa yang harus kita lakukan Soekarno dan Moh. Hatta tetap
bersikeras tidak menyetujuinya usul kita apalagi mereka berdua tetap tidak
percaya dengan berita itu.”

Sutan syahrir : “Begini saja saya mengusulkan agar Bung Karno dan Moh. Hatta kita asingkan
saja keluar Jakarta untuk menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang, apa kalian
setuju usul saya!”

Sukarni, Yusup Kamto, Muwardi berkata “ Setuju “

Sutan syahrir : “tapi yang saya bingungkan kita akan membawa kedua tokoh Nasionalis itu
kemana ya!”

Sukarni : “Kemana yah” ( sambil kebingungan )

Muwardi : “Kita serahkan saja tugas ini kepada Singgih dan latif Hendra ningrat karena
mereka berdua adalah anggota peta”

Latif : “Baiklah akan saya pikirkan dahulu”



(sekitar 15 menit mereka berpikir)

latif : “Bagaimana kalau kita bawa mereka dua ke renggas dengklok dekat Karawang,
karena disana dekat dengan tempat salah satu pemusatan tentara peta yang
keamanannya terjamin”

singgih : “Benar, apa kalian menyetujuinya?”

suhud : “Bagus, kami setuju dengan rencana tersebut”

Latif hendra ningrat dan Singgihpun kemudian pergi ke rumah Soekarno. Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah Soekarno.

Singgi : (Tok.tok.tok) “Assalamualaikum?”

Fatmawati : “Walaiku salam (Fatmawati membuka pintu) Ada apa yah malam-malam begitu
bertamu kemari”

Latif : “Maaf Bu, kami tidak bermaksud mengenaggu waktu istirahat Ibu, tapi ada hal
penting yang harus kami bicarakan dengan Bung Karno, sekali lagi kami minta
maaf!”

Fatmawati : “Ah tidak apa-apa, mari silahkan masuk, silahkan duduk!”

Latif : “Terima kasih bu”

Fatmawati : “Sama-sama, kalau begitu tunggu sebentar yah saya panggilkan dulu Bung Karnonya. Oh
ya hampir lupa kebetulan Bung Hatta juga menginap di sini katanya mereka ingin
membahas keinginan para pemuda, apa Bung Hatta juga perlu saya panggilkan”

Latif : “Ya, Bu silahkan”

Fatmawati meninggalkan mereka berdua, ia menemui suaminya dan Bung Hatta untuk memberitahukan kedatangan para pemuda. Tak lama kemudian Bung Karno datang ia di temani oleh Moch Hatta dan Fatmawati

Singgih dan Latif : “ Asalamu’alaikum”

(Mereka berdiri saat Soekarno dan Moch Hatta datang)

Soekarno : “Waalaikum salam ayo silahkan duduk”

Singgih : “Terima kasih”

Soekarno : “Sama-sama. Bu kok tamunya tidak di tawarin minum dulu”

Fatmawati : “Maaf Kang Mas Ibu lupa. Oh ya tuan-tuan ini mau minum apa”

Latif : “Ah ngerepotin Bu, enggak usah saja Bu, terima kasih”

Fatmawati : “Biasa saja, jadi tuan ini mau minum apa”

Singgih : “Apa saja Bu yang penting halal”

Fatmawati : “Ya sudah saya kebelakang dulu”

(Fatmawati pergi ke dapur untuk membuat air minum)

Soekarno : “Katanya kalian ingin membicarakan hal yang penting dengan saya, memang hal
yang penting hal apa. Apa berkaitan dengan yang tadi siang”

singgih : “Sebelumnya kamu meminta maaf lagi-lagi kami mengganggu waktu istirahat
Bubg, memang kedatangan kamu kemari memang berkaitan dengan kejadian
tadi siang”

Soekarno : “Begini Bung, kami sebenarnya di utus kemari karena mendapat tugas untuk
membawa Bung Karno dan Bung Hatta keluar kota”

Hatta : “Kemana ?”

Latif :”Kekerawang!”

Hatta : “Memang kenapa kamu harus pergi keluar kota?”

Latif : “Untuk menghindar dari pengaruh Jepang!”

Hatta : “Tapi kalau kami tidak mau?”

Latif : “Sekarang tuan bukan waktunya untuk berdebat cepat ikut kami”

Bung Karno : “Apakah ini semua penting?”

Latif : “Sangat penting!”

Bung Karno : “Baiklah kami akan ikut tapi saya berpamitan dulu dengan Fatmawati”

(Soekarno pergi dan menemui Fatmawati di dapur)

Soekarno : Bu, Kang Mas pamit dulu, Kang Mas akan pergi dengan para pemuda itu

Fatmawati : “Kemana?”

Soekarno : “Ke Karawang!”

Fatmawati : “Bolehkah saya ikut. Saya merasa akhir-akhir ini perasaan saya tidak enak
tentang Kang Mas!”

soekarno : “Baiklah ayo cepat!”

(Akhirnya Soekarno dan Fatmawatipun kembali)

singgih : “Maaf Bung, apakah sudah selesai bicaranya kalau begitu bagaimana kalau
sekarang kita berangkat agar lebih cepat”

Bung Karno : “Ya sudah kita berangkat”

Akhirnya mereka meninggalkan rumah Soekarno dan langsung menuju Renggas dengklok di Karawang disana para pemuda sudah berkumpul menunggu kedatangan Soekarno dan Moch Hatta. Setelah lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di sebuah rumah. Di sana Soekarno dan Moch. Hatta terus di desak oleh pemuda. Namun ternyata sungguh besar wibawa mereka berdua hingga para pemuda menjadi naik pitam.

Latif : “Bung Karno, tunggu apa lagi waktu inilah yang tepat bagi kita semua
memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia”

Singgih : “Iya, sebaiknya Bung setuju usul kami ini Soekarno dan Muhammad Hatta
Terdiam ketika para pemuda terus mendesak Soekarno dan Moh Hatta agar
menyetujui keinginan para pemuda. Namun Soekarno tetap saja bersikeras
dengan pendirinnya”

Soekarno : “Maaf tapi saya tidak bisa”

Jawaban itu membuat Singgih geram

Singgih : (Sambil menodongkan pistol kepada Soekarno)
“Proklamasikan Kemerdekaan Indonesia secepatnya kalau tidak kubunuh kau, apa kau mau seperti ini” (door... door...door...)

(Peluru pistol keluar dari pistol)
Fatmawati yang melihat kejadian ini kemudian ia menghampiri dan merangkul Soekarno dan bertanya kepada para pemuda

Fatmawati : “apa-apaan kalian ini”

(Ia bertanya dengan penuh emosi yang meluap-luap)

sutan sahrir : “Tidak apa-apa bu, kami cuma ingin memproklamasikan Indonesia secepatnya.
Namun Bung Karno menolak”

Fatmawati : “Ya saya tahu itu. Tapi jalannya tidak seperti ini. Lagi pula kalau Kang Mas
menolak untuk memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia saat ini. Pasti ia
mempunyai alasan tersendiri”

Sukarni : “Lalu dengan jalan bagaimana padahal keputusan ada di tangan kedua pemimpin
tersebut”

Fatmawati : “Ya sudah bagaimana kalau masalah kalian ini kita bicarakan lagi dengan kepala
yang dingin tidak dengan emosi”

akhirnya Fatmawatipun berhasil meyakinkan para pemuda agar kembali berunding dengan Soekarno dan Moh Hatta.

Disisi lain achmad Soebardjo yang mengetahui keberadaan Soekarno dan Fatmawati serta Muhamad Hatta berusaha meyakinkan para pemuda agar kedua tokoh nasional itu di bawa kembali ke Jakarta

Ahmad Soebarjo : “Sudahlah Chairul Soleh sebaliknya kalian jangan menahan Soekarno dan Moch
Hatta”

Chairul Saleh : “Memang kenapa, apa alasannya?”

Ahmad soebarjo : “Rasanya tidak arif apabila kita menahan kedua tokoh nasionalis itu”

Chairul saleh : “Tidak arif bagaimana, kami sudah mencoba untuk meyakinkan mereka namun
tetap saja mereka menolak”

Ahmad soebarjo : “Saya yakin kalau kita bicara baik-baik pasti keinginan kalian akan di penuhi
saya akan membantu kalian untuk meyakinkan Soekarno dan mhch Hatta”

Yusuf Kamto : “Apakah yang Bung bicarakan ini dapat di pegang, yang kami inginkan adalah
kemerdekaan Indonesia besok harus di laksanakan”

Ahmad soebarjo : “Percayalah, saya akan meyakinkan tokoh nasionalis itu agar menyetujui usul
kalian itu!”

Chairul saleh : “Ya sudah sebaiknya kita sekarang berangkat ke Kerawang untuk menjemput
Soekarno dan Moch hatta”

Yusuf kamto : “Baiklah ayo kita berangkat!”

Kemudian mereka berangkat ke Renggas dengklok tepatnya sampai di Renggas dengkok dan bertemu dengan Soekarno dan Moch Hatta. Setelah sampai mereka langsung berangkat legi menuju. Hotel Den Hendels tepatnya di Jakarta. Akhirnya mereka sampai di Hotel Hendels. Kemudian Sayuti melik menghampiri pelayan restoran

Sayuti melik : “Maaf tuan apakah ada kamar Hotel yang masih kosong untuk kami!”

Pelayan hotel : “Maaf tuan semua kamar hotel di sini sudah penuh!”

Sayuti melik : Oh begitu, terima kasih”

Kemudian Sayuti melik kembali menemui Ahmad subarjo dan yang lainnya.

Sayuti melik : “Kamarnya penuh, bagaimana yah”

Ahmad subarjo : “Bagaimana kalau kita kerumah Laksamana maeda, ia adalah teman karib saya
dia juga orang yang mendukung mekerdekaan Indonesia”

Sayuti melik : “Kalau tidak salah juga dia merupakan salah satu perwira tinggi angkatan darat,
jadi pasti keamanannya terjamin”

Suhud : “saya setuju, karena seperti yang dikatakan sayuti melik keamanannya terjamin”

Soekarno : “Ya sudah kalau begitu kita berangkat ke rumah laksamana maeda”

Mereka berangkat ke rumah Laksamana maeda tidak lama kemudian mereka sampai di rumah laksamana maeda

Soekarno : (Tok.tok.tok…!) “Permisi selamat malam bisakah kami bertemu dengan tuan
laksamana maeda”

Orang Jepang : “Baiklah silahkan masuk tuan ada di dalam “

Hatta : “terima kasih”

(Sesaat kemudian Soekarno dan Moch Hatta bertemu dengan laksamana maeda)

Soekarno : “Selamat malam tuan?”

Laksamana Maeda : (membalas sapaan dengan senyuman) “ada apa, kenapa tuan-tuan ini
mendatangi kediaman saya. Apakah ada masalah yang serius”

Soekarno : “Maaf mungkin kedatangan kami menganggu waktu istirahat tuan”

Laksamana sobarjo : “Kami bermaksud untuk menanyakan apakah benar berita menyerahnya
Jepang terhadap sekutu itu?”

Laksamana maeda : “Dari mana tuan mendengar berita tersebut”

Soekarno : “Kami mendengar berita tersebut dari salah satu pemuda. Katanya dia
mendengar berita tersebut dari radio luar negeri”

Laksamana maeda : “Memang benar berita tersebut tapi kami masih merahasiahkannya agar tidak
timbul kekacauan karena kami masih bertanggung jawab terhadap keamanan
Indonesia”

Moch Hatta : “Sekarang tuan yang kami bingungkan para pemuda terus mendesak agar
memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia secepatnya”

Laksamana maeda : “Wah itu merupakan gagasan yang bagus mengingat inilah waktu yang tepat
untuk memperoklamasikan kemerdekaan Indonesia”

Moch Hatta : “Berarti tuan menyetujuinya”

Laksamana Maeda : (Membalas dengan senyuman)

Ahmad soebrjo : “Begini, kalau maeda mengiinkan kami boleh meminjam rumah anda”

Laksamana maeda : “Boleh memang untuk apa”



Hatta : “Kami telah sepakat apabila berita itu kami akan secepatnya memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia rencananya kami akan memperoklamasikan
kemerdekaan Indonesia besok pagi jadi apakah tuan keberatan”

Laksamana maeda : “Tidak tidak sama sekali lalu persiapan apa yang akan kita siapkan!”

Soekarno : “Rencanaynya kami akan membuat naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia”

Laksamana maeda : “ya sudah ayo sekarang kita buat bersama naskahnya di ruang makan. Kita
tidak boleh membuang waktu percuma kan!”

Soekarno : “Rasanya terlalu banyak orang kalau kita mengerjakan naskah ini bila bersama
bagaimana kalau anda, Bung Hatta, ahmad subarjo serta saya mengerjakan
naskah ini bersama

Suhud : “Benar, sebaliknya memang merekalah yang harus menuju ruang makan”

Hatta : “Tapi bagaimana dengan para pemuda ini”

Laksamana maeda : “Biarkan mereka disini menunggu kita, ayo Soekarno. Moch Hatta, Ahmad
subarjo dan laksamana maeda bersama beberapa pemuda pergi ke ruang
makan untuk menyusun naskah proklamasi”

Soekarno : “Biarkan saya yang mencatat”

Ahmad subarjo : “Baiklah

Soekarno : “untuk pembukaan kata apa yang bagus ya ?”

Hatta : “Bagaimana untuk pembukaannya kata proklamasi sepertinya kata itu cocok untuk naskah ini

Soekarno :Yah bagus (Kemudian ia menulisnya dalam secarik kertas) lalu untuk isinya apa?

Ahmad subarjo : “Tunggu sebentar biarkan saya berpikir dulu (sekitar 5 menit ahmad subarjo berpikir)

Yach, bagaimana kalau begini “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia

Hatta : “Itu bagus, karena kan naskah ini menyatakan kemerdekaan bangsa kita (kemudian ia menulisnya dalam secarik kertas)

Soekarno : “Itukan bagian dari pembukaan sekarang isinya bagaimana?”

Hatta : “Sayasudah berpikir begini “Hal-hal yang mengenai pemindahan dan kekuasaan dll, di selenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”

Soekarno : “Yah bagus semua sudah selesai, jadinya seperti ini”


Ahmad soebarjo : “Alhamdulillah akhirnya selesai juga, bagaimana kalau sekarang kita
menghampiri para pemuda apakah mereka menyetujuinya isi naskah ini”

Soekarno : “Ya sudah ayo kita menghampiri para pemuda”

(Tidak lama kemudian mereka sampai di serambi belakang di tempat para pemuda menunggu)

sutan sahrir : “Bagaimana naskahnya sudah selesai Bung”

soekarno : “Sudah akan saya bacakan”



PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan dan kekuasaan dll.

Di laksanakan dengan djara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.



Djakarta, 17 – 8- 05

Wakil Bangsa Indonesia



Soekarno : “Mungkin ada yang ingin menambahkan”

Sukarni : “Ada, kata-kata ada sedikit yang janggal jadi perlu di beri perubahan sedikit”

Soekarno : “Baiklah kita akan memperbaikinya sekali lagi!”

Sukarni : “Itu lebih baik!”

Akhirnya mereka merundingkan kembali naskah tersebut bersama para pemuda. Kemudian mereka melakukan sedikit perubahan pada naskah proklamasi itu. Setelah selesai melakukan sedikit perubahan kemudian Soekarno menyruh sayuti melik mengetik naskah proklamasi
Soekarno : “Maaf, apakah sayuti melik bisa mengetik naskah ini dengan perubahan-
perubahannya?”

Sayuti melik : “Saya bisa, Bung”

Soekarno : “Ya sudah tolong ketik naskah ini dengan cepat”

Sayuti melik : “Baiklah”

Sayuti melikpun mengetik naskah proklamasi, kemudian setelah selesai. Naskah itu di berikan pada Soekarno

Sayuti melik : “Ini Bung naskahnya sudah selesai sekarang tinggal siapa yang akan
menandatanagni naskah ini”

Soekarni : “Terima kasih, bagaimana kalau naskah ini yang menandatangi adalah kita
semua yang hadir disini”

Hatta : “Yah saya setuju. Agar mengacu pakta deelaration of Independence”

Chairul saleh : “Saya tidak setuju lebih baik anda dan Bung Hatta yang menandatangi naskah
tersebut atas nama bangsa Indonesia”

Semua yang hadir : “Setuju, itu lebih baik !”

Soekarno : “Nah sekaraqng naskah sudah selesai lalu, sekarang yang harus kita pikirkan di
mana naskah ini akan di bacakan”

Sukarni : “Kami sudah menyiapkan tempat kita akan membacakan teks proklamasi ini”

Hatta : “Dimana?”

Sukarni : “Dilapangan Ikada”

Soekarno “ Saya menolak”

Sukarni : “Kenapa anda menolak?”

Soekarno : “Karena kalau kita membacakan naskah proklamasi ini di lapangan Ikada pasti
akan timbul bentrokan dengan tentara Jepang”

Sukarni : “Iya juga yah ! Kenapa saya tidak berpikir sampai kesana?”

Soekarno : “Bagaimana kalau kita membacakan teks proklamasi ini di rumah saya”

Hatta : “Saya setuju, mungkin dengan itu tentara Jepang tidak akan mengacaukan
proklamasi kemerdekaan Indonesia”

Semua yang hadir : “setuju...!”

Laksamana maeda : “Ya sudah naskah sudah selesai disusun bagaimana kalau kalian pulang ke
rumah masing-masing dan istirahat saja lihat kalian begitu lelah. Pagi harinya
kita berkumpul di rumha Soekarno”

Soekarno : “Yah kami semua sudah lelah, sebaiknya kami semua pulang saja, sebelumnya
kami ingin mengucapkan terima kasih atas izin tuan”

Laksamana maeda : “Ah tidak apa-apa”

Ahmad : “Ya sudah tuan kami pamit dulu”

Akhirnya dini harinya tanggal 17 semua pulang ke rumah masing-masing, tetapi para pemuda tidak pulang ke rumahnya, tetapi mereka menghimpun rekan-rekannya untuk menyebar luaskan berita itu kesegenap masyarakat Jakarta.

Dengan cepat mereka mempersiapkan fomlet-fomlet dan mobil pengeras suara untuk memberitahukan kepada penduduk tentang kabar gembira ini.

Pagi harinya pemuda-pemuda dan penduduk sekitar berkumpul di Jakarta yaitu di rumah Ir. Soekarno.

Muwardi : “Bung karno para pemuda telah berkumpul mereka sudah tidak lagi untuk
mendengarkan anda membacakan naskah proklamasi”

Soekarno : “Tunggulah sebentar Bung Hatta belum datang saya akan menunggu Bung Hatta
dulu”

Muwardi : “Ya sudah silahkan, tapi jangan terlalu lama. Kami sudah tidak sabar untuk
“menunggu senebtar lagi kan sudah pukul 10.00

Soekarno : “Ehm … baiklah”

Suhud : (Tiba-tiba datang)
“Maaf Bung Karno apakah kita akan melakukan pengibaran bendera merah
putih”

soekarno : “Ya haruslah, itukan sebagai simbol kalau kita telah merdeka”

suhud : “belum”

soekarno : “Ya sudah biar saya yang mengurus benderanya, saya akan menyuruh Fatmawati
menjahitkannya sekarang juga”

suhud : “Ya sudah Bung biar saya yang mencari tiang bambunya, saya permisi dulu”

soekarno : “Ya silahkan, Wikana tolong panggilkan Fatmawati kemari”

Wikana : “Baik Bung Karno”

Sesaat kemudian Fatmawati datang

Fatmawati : “Ada apa Kang Mas memanggil saya?”

Soekarno : “Bu tolong jahit bendera merah putihnya disini. Bukankah ibu mempunyai kain
merah putih”

Fatmawati : “Entahlah tapi seingat kain itu sudah ibu buat rok”

Soekarno : “Pokonya Kang Mas minta sekarang jahitkan benderanya”

Kemudian fatmawati mancari kain itu, setelah selesai mencari fatmawati menjahit dengan tangan. Tidak lama kemudian Moch Hatta datang tepat pukul 19.45

Hatta : “Maaf terlalu lama menunggu saya”

Soekarno : “Ah tidak apa-apa, kebetulan persiapannya juga beleum selesai”

Hatta : “Memang persiapan apa”

Soekarno : “Persiapan untuk pengibaran bendera sedang menjahit benderanya sebentar lagi
juga sudah beres”

Akhirnya segala persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia selesai benera sudah dijahit, begitu pula dengan tiang bambu suhud sudah mencarinya. Kemudian latif menjemput kedua tokoh nasionalis itu di kamar Soekarno

Latif : Maaf Bung bisakah proklamasi ini segera di mulai”

Soekarno : “Bisa, ayo silahkan kita menuju halaman depan”

(Saat Soekarno dan Moch Hatta keluar dari rumahnya dan naik ke panggung mereka di sambut dengan antusiasme yang penuh oleh para penduduk yang sudah berkumpul)

Tak lama kemudain Soekarno membacakan pidatonya

assalamu’alaikum Wr. Wb

Pada kesempatan pagi ini kita berkumpul untuk menjadi saksi dari peristiwa penting yang selama ini kita tunggu, yaitu peristiwa yang selalu menjadi impian dan harapan sebagai bangsa yang terjajah. Dari bertahun-tahun yang lalu sampai beratus-ratus tahun yang lalu kita memperjuangkan kemerdekaan kita agar bebas dari penjajahan.

Hari ini kita mengibarkan kemerdekaan kita dengan harapan dapat menjadi tombak agar kehidupan kitaa bisa berubah menjadi lebih baik labih layak dari sebelumnya.

Terima kasih kepada para pejuang yang kokoh dan teguh memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita dengan segenap jiwa dan raganya dari mulai penjajahan Bangsa Portugis, Inggris, Jepang dan Belanda. Kita selama ini seolah seperti orang yang selalu tunduk di hadapan penjajah. Kita seolah mengabdi kepada mereka. Namun di dalam hati kita, kita tetap menjungjung tinggi keinginan dan impian kita untuk kemerdekaan bangsa kita.

Kini semua harapan kita itu bukanlah sebuah angan-angan belaka, melainkan sebuah perjuangan yang hasilnya dapat kita saksikan saat ini, prolkamasi kemerdekaan Bangsa Indonesia, dengan di tandai pembacaan Naskah proklamasi.







PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal yang mengenai pemindahan dan kekuasaan dll.

Di laksanakan dengan djara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.



Djakarta,hari, 17 Boelan 8 tahoen 1945

Atas nama bangsa Indonesia



Soekarno Hatta



Demikianlah naskah Proklamasi ini sebagai tanda bahwa bangsa kita bangsa indonesia yang telah merdeka. Kemudian sebagai simbol kebebsan dan kemerdekaan kita, kita kibarkan bendera merah putih.

Suhud dan latif kemudian mengibarkan bendera merah putih.

Latif dan suhud kemudian mengibarkan bendera merahputih

Latif dan Suhud maju kedepan

Latif : “Siap Grak, jalan ditempat grak, maju jalan”

Setelah itu ia mengibarkan bendera merah putih

Latif : “Hormat Grak (seluruh yang hadir disana memberi hormat kepada sang saka merah
putih”

Latif : “Tegak grak”

Dengan ditandai pembacaan naskah proklamasi dan pengibaran sangsaka merah putih maka sejak itu bangsa kita lepas dari belenggu penjajahan. Namun kemudian yang harus mereka lakukan adalah
bagaimana mempertahakan kemerdekaan itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar